Kamis, 29 November 2012

Renungan Malam

oleh :        Hidayatus Sholikah


    Malam ini aku duduk di ayunan sambil menikmati pemandangan langit yang menawan. Bintang kejora gemerlapan, angin malam yang sejuk, cahaya lampu taman yang redup, dan bunga-bunga indah di taman ini turut menjadi saksi bisu dalam perasaanku malam ini yang sedang galau. Buku diary yang kubawa telah tergores tinta biru yang kupegang. Goresan demi goresan menghasilkan sebuah puisi yang indah tentang curahan isi hatiku. Tetesan air mata inipun ikut serta daam heningnya malam ini. Semakin terasa sedih ini saat teringat wajahmu diangan-anganku. Kini aku tak dapat melihat wajahmu yang rupawan lagi. Semoga kau tenang diatas sana. Aku berharap kita  bisa menjalin hubungan lagi disurga.

    Suara aungan srigala telah terdengar ditelingaku. Menandakan tengah malam telah tiba. Akupun bergegas menuju ke kamar untuk berisitirahat. Tapi takdir berkata lain, beum sampai dikamar dia datang menghampiriku. Sejenak aku berdiri kaku dan terdiam yang kufikirkan hanya satu. Aku sangat senang bisa melihat senyumanmu lagi dan kamu telah kembali kebumi. Tak sedikitpun teringat bahwa ssebenarnya yang dihadapanku ini hanyalah arwahnya yang tak ingin melihatku bersedih. Niatnya datang kebumi hanya untuk mengingatkan bahwa aku tidak perlu menangis karna itu hanya membuat dirinya tersiksa disurga. Dan dia meyakinkan padaku bahwa kita akan bertemu lagi pada suatu saat. Kedua kalinya dia melarangku untuk bersedih, walau raganya tak bisa ad disampingku tapi hatinya kan slalu untukku. Aku hanya terdiam membisu tak tau harus berbuat apa. Ketika aku sadar bahwa dia sudah meninggal, dengan refleks akupun memluknya. Tapi apa yang terjadi. Dia selalu menghilang saat aku ingin bahagia bersamanya.  Mungkin benar Tuhan hanya ingin aku bahagia bersamanya disurga.
    Pikirankupun hanya tertuju padanya. Kata-kata indah aku lontarkan kepada Tuhan agar disampaikan pada nya. Dengan senyuman aku mengingat wajahnya membayangkan betapa bahagianya jika aku bisa hidup didunia bersama dia selamanya. Bergurau dengan anak kami, menikmati hembusan udara bersama dan menari diawan. Tapi saat kebahagiaan itu hampir ada ditanganku mengapa ada kerikil kecil yang memhancurkan semua itu. Dan akhirnya membawanya surga dan tak akan bisa kembali kebumi lagi bersamaku tuk selamanya. Inilah kehidupan, aku hanya bisa mengambil positifnya saja dari kejadian semalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar